Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Menulis Dengan Hati

"Loh, kok nulis pake hati sih? Kan pake tangan!"
"Yeh... nulis tuh pake pena, tauk!"
"Ah, kalau aku sih pake keyboard, hehehe...."
"Semuanya nggak bakalan jadi kalau nggak ada niat buat nulis. Dan taukah kalian niat itu datang darimana? Dari lubuk hati yang terdalam...."

Wuess.... percakapan yang terakhir itu loh. Hmm.... kalau mendengarnya langsung, bener2 membuat 'ambles' hatiku. Hihihi.... Kalau dipikir2 emang bener juga sih. Kan ada yang bilang kalau awwalu binniat. Lah, kalau emang nggak ada niat awal buat nulis ya.... ke laut aka deh lo! *berenang ama paus, qiqiqiqi :)

Setelah itu, saya merenung. (gara2 kebanyakan merenung, tulisannya kagak jadi2, wkwkwk). Suasana apapun sangat besar pengaruhnya dengan hati saya. Bisa suatu ketika saya hepi2, eh lain kali saya termehek2 gara2 kehilangan. Bisa saya khawatir karena ketidakpastian, bisa juga lega karena karena berhasil melewati sebuah perjuangan. Hmm.... dan saya akui bahwa semua kondisi itu benar2 murni curahan ekspresi dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Hari demi hari.... Saya mencoba berteman dengan suasana hati saya. Alhasil, terciptalah sebuah tulisan yang membuat saya sedu-sedan sendiri. Ah, tidak usah saya tuliskan ceritanya ya. Saya bisa2 terbawa emosi kalau menulsikannya lagi. Yang pasti gambaran saya saat menulis saat itu adalah menulis dengan segenap perasaan saya. Saya tumpahkan saya apa yang ada di otak saya dan saya sambungkan dengan sinyal2 saraf menuju ke hati saya. Fiuhh.... saya lega.

Sejak itulah saya menuliskan sebuah kalimat sendiri (alias quote bikinan sendiri) --> buat yang mau copas silahkan tuliskan nama saya di belakangnya ya.... Biar ngetop juga kayak Om Mario Teguh.... (*ngarep.com)

Menulislah dengan hati sebab hati adalah telaga inspirasi yang akan menuangkan beragam ekspresi
(Alina Sitha)

Kadangkala di saat saya menulis nggak pake perasaan alias asal jadi ajah, hmm.... saya sendiri nggak respect tuh ama tulisan saya... hiks.... hiks.... Pas saya kasih ke orang lain buat nilai tulisan saya, sudah saya duga sebelumnya. Mereka langsung berkata, "Kok tulisanmu kayak gini sih? Nggak ada nyawanya!" 

Bletaak! Bener2 remuk nih tulang2 berasa kayak ditampar! (nggak nyambung) Yang jelas hancurlah perasaan saya... (duileee.....) Lalu, saya tumpahkanlah kekecewaan itu ke dalam untaian kata penuh makna... Dan hasilnya.... Jreng.... jreng.... jreng... AJAIB! Itu menurut saya sebab saya tidak mau memberikan tulisan isi curhatan nggak penting saya ke orang lain, hehehehe.....

Ya udah lah ya... Kali ini perasaan hati saya lagi campur aduk, jadi mohon maaf aja kalau tulisannya juga campur aduk, kagak jelas sehingga membuat anda terkantuk-kantuk sampe geleng2 kepala... Hehe....

Sekian infotainment dari saya. Hayooo.... pada sayang2in hati ya... biar nggak sakit hati. Hihihi.... ^_^

Menulis Ala Chicken Soup

Sebelum saya memulai bahasan kali ini, izinkan saya untuk mengutip satu tulisan di sini. Tulisan itu saya ambil dari sini : www.oneminuteonline.wordpress.com.
 “…Seorang pria bernama Jack bermimpi untuk menulis buku. Bukan buku biasa. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, pada waktu itu. Buku itu akan berisi kumpulan kisah yang menggugah, ditulis dengan singkat dan padat, namun mengena. Dan yang membuat buku itu istimewa karena semua kisah dalam buku itu didasarkan pada kisah nyata. Jack percaya buku itu akan disukai karena akanmenginspirasi banyak orang yang membacanya. Setelah menemukan hasratnya, ia mulai menulis dengan penuh semangat.
Ketika buku itu telah selesai ditulis, naskah itu pun diajukan ke penerbit. Jack optimis akan mendapat respon positif. Tapi di luar dugaan, penerbit menolaknya. Tapi, masih ada banyak penerbit lain. Jack pun kembali mencoba memasukkan naskahnya ke penerbit lain. Dan ia ditolak lagi. Ia mencoba lagi untuk ke tiga kalinya, dan ditolak lagi. Ia tetap tak kenal menyerah. Ia mencoba lagi dan lagi, dan penolakan demi penolakan terus saja diterimanya. Tak tanggung-tanggung, ia telah mendapatkan penolakan sebanyak 124 kali!
Ya, 124 kali! Bukan jumlah yang sedikit. Bisakah Anda bertahan atas penolakan sebanyak itu? Pada penolakan yang ke berapakah kira-kira Anda akan memutuskan utnuk berhenti dan menyerah? Pada penolakan ke-100 kah? Pada penolakan ke-50 kah? Atau jangan-jangan daya tahan Anda hanya pada penolakan ke-10?
 Seandainya Jack memutuskan untuk menyerah pada penolakan ke-10, ke-50 atau ke-100 atau bahkan ke-124 dunia tidak akan pernah mengenal sebuah buku yang paling menginspirasi orang dari berbagai belahan bumi selama bertahun-tahun. Buku itu kita kenal dengan “Chicken Soup for the Soul”. Pada usahanya yang ke-125 akhirnya sebuah penerbit menerima naskahnya dan menerbitkannya. Dan ternyata buku itu laris manis, dan berhasil masuk dalam 150 top best seller sepanjang 15 tahun.
 Serial Chicken Soup menjadi buku motivasional yang sangat digemari di berbagai belahan bumi. Ada lebih dari 200 judul dari setiap serial buku ini yang telah dibuat oleh Jack Canfield, dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa, dan terjual lebih dari 112 juta copy…..”
Buku-buku seri Chicken Soup mendulang sukses justru karena kekuatan ceritanya. Kekuatan cerita tersebut bukanlah terletak pada tema-tema yang berat, melainkan pada kesederhanaan kisah, kalimat-kalimat yang mengalir runut, menceritakan sebuah kisah sederhana yang pada akhir cerita akan membuat mulut kita ternganga saking takjubnya atau mungkin hanya sekedar menarik nafas panjang dan berpikir, “Wah.. ceritanya gue banget nih…”
Mengapa buku-buku Chicken Soup banyak digemari para pembacanya di seluruh dunia ? selain apa yang telah saya uraikan di atas, satu alasan lain lagi adalah, karena kisah-kisah yang ditampilkan di buku itu singkat, ringan, namun membawa banyak hikmah dan inspirasi bagi siapapun di berbagai belahan dunia ini.
Tulisan ala chicken soup ini masuk dalam genre non fiksi karena isinya adalah kisah-kisah nyata. Berkaitan dengan itu, sebaiknya hal-hal yang mendramatisir kisah kita jangan terlalu berlebihan sebab khawatir nantinya akan  hanya menjadi tulisan fiksi based on true story.
Kita pasti memiliki banyak cerita dalam kehidupan sehari-hari bukan ? ya, tentunya.
Setiap kita tentu punya cerita. Tidak bisa bercerita atau tidak bisa menuliskan cerita bukan berarti kita tidak memiliki cerita. Pada kenyataannya, cerita-cerita yang luar biasa di dunia berasal dari orang-orang yang memutuskan untuk diam dengan berbagai alasan. Namun pada akhirnya, ada banyak cara untuk mengungkapkan cerita itu kepada orang lain. Mungkin dengan jalan curhat kepada sahabat atau keluarga, atau menuliskannya.
Tips Menulis Ala Chicken Soup
·         Pilihlah satu cerita sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari. Satu cerita yang mungkin saja juga dialami oleh banyak orang lain di berbagai belahan dunia. Mungkin nanti cerita itu akan menggugah orang lain, mengingatkan orang lain, membawa hikmah atau sekedar hiburan bacaan ringan.
·         Tidak banyak yang harus kita tulis. Hanya satu kejadian kecil. Kisah yang sangat spesifik. Mungkin orang lain juga mengalami kisah tersebut. Tapi kita menuliskannya dengan perspektif berbeda berdasarkan pengalaman pribadi yang tentunya akan menghasilkan akhir cerita yang berbeda dengan orang lain.
Menulis ala chicken soup butuh ‘FOKUS’. Gimana caranya bisa fokus? Kadang-kadang suka ngalor-ngidul nih tulisannya saat ide dituangkan ! Nah, cara yang mungkin bisa membantu adalah saat kita telah memilih sebuah kisah, gali memori kita dalam-dalam tentang kisah tersebut. Lalu, ambillah poin penting dari kisah tersebut agar tidak melebar kemana-mana.
Intinya, pikirkan satu cerita kecil dalam periode kehidupan kita yang sesuai dengan tema tulisan yang akan kita buat. Galilah cerita tersebut secara mendalam, dan temukan hikmah apa yang bisa kita bagikan kepada orang lain dari cerita tersebut. Mungkin cerita tersebut bukan kisah yang luar biasa, bukan pula kisah yang mampu menggetarkan banyak hati. Tapi setidaknya, cerita itu membawa dampak dalam kehidupan kita di kemudian hari.
Ingat ! Kekuatan cerita akan menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca. Tapi, alangkah lebih bagus bila kekuatan cerita itu dipadukan dengan gaya penceritaan yang membuat pembaca makin terkesima dengan tulisan kita. “wooow !”

Cara Menulis ala Chicken Soup.
Misalkan saya akan menulis naskah dengan tema Pacar Pertama.
Saya akan duduk dengan tenang. Saya  ajak pikiran saya kembali ke masa lalu. Siapakah pacar pertama saya ? kapankah kisah cinta pertama saya ? apakah saat di SMP ? SMA ? Kuliah ? owh.. pacar pertama saya adalah si A, misalnya. Kenanglah kembali kisah dengan A itu. Apakah ada satu kejadian yang paling saya ingat dari hubungan saya dengan A tersebut ?

Ya, ada. Tiba-tiba saya ingat bahwa dulu, sekian puluh tahun  yang lalu, A pernah memberikan kejutan yang istimewa untuk saya. Padahal saya tahu, A adalah orang yang paling tidak romantis abad ini. Kejutan istimewa itu telah begitu susah payah dirancang oleh A namun saya tidak menyadarinya dan malah membuatnya kecewa. Pada akhirnya saya menyesal, namun A keburu marah dan memutuskan meninggalkan saya.

Sedih ? memang. Dan itulah yang akan saya tuliskan dalam kisah saya itu. Saya tidak akan menuliskan bagaimana ketika saya pertama kali pacaran di sekolah. Saya tidak akan menjelaskan satu persatu siapa saja pacar-pacar saya dulu sesudah si A itu. Saya juga tidak akan menjelaskan dari A sampai Z bagaimana gaya berpacaran saya dengan si A kala itu.
Yang akan saya tuliskan hanyalah sepotong kisah kecil ketika A berusaha menyenangkan hati saya dengan memberi surprise namun saya malah merusak segalanya. Simple. Sederhana. Namun di akhir cerita saya akan tuliskan betapa sepotong episode itu membawa hikmah yang luar biasa dalam kehidupan saya saat ini. Setidaknya, ketika saya kembali berhubungan dengan orang lain, saya jadi belajar untuk lebih peka dan lebih mengerti pasangan saya tersebut.
Menulis ala chicken soup, biasanya tidak perlu panjang-panjang. Hanya sekitar 3-5 halaman saja dengan aturan standar TNR 12, 1,5 spasi. Tidak perlu menjejali tulisan ibu-ibu dengan data dan fakta yang begitu banyak. Ingat, tulisan ini akan dibaca sebagai teman beristirahat, teman dalam perjalanan, teman saat santai, maka buatlah tulisan yang ringan, mengalir dan manis. Semanis kue J.
Menulis pengalaman nyata, apalagi pribadi terkadang akan menyenggok seseorang. Agar tidak terjerumus pada hal-hal yang berbau ghibah, kita bisa melakukan hal-hal sbb :
·         Tidak menyebutkan nama jelasnya dalam tulisan kita. Cukup dengan sebutan saja, misalnya, “Mantan kekasih”, atau “ibu tiri saya ”.
·         Fokuskan pada bagian hikmah yang terpetik dari kisah tersebut. Ceritakan kisahnya apa adanya dan bahas pendapat kita tentang pengalaman itu.
Contoh seperti di atas :
saya menuliskan ttg masa 20 tahun lalu ketika saya masih berseragam putih biru. saat itu saya dekat dengan seorang teman sekelas, bernama Gie. percakapan2 panjang setiap hari membuat saya dan Gie semakin dekat. tapi sayang, ketika saya mulai merasakan ada perasaan lain di hati, saya baru tau bahwa ternyata Gie itu sudah punya teman dekat lain. Dan gie tetap menganggap saya sbg sahabat baiknya. pada akhirnya, saya mulai belajar menyadari sesuatu bahwa ternyata persahabatan itu bisa jauh lebih indah dibandingkan percintaan. ini terbukti krn ternyata pada akhirnya , ketika saya dan Gie mulai kuliah di tempat yg berbeda, Gie bisa bergonta ganti pacar beberapa kali, tapi tetap saja sahabat baiknya adalah saya.
Sama seperti menuliskan sebuah cerpen atau novel, point of view yang digunakan bisa sebagai orang pertaman, orang kedua dan orang ketiga. Kita bisa menuliskan kisah hidup kita, atau kisah orang2 terdekat kita, dengan Pov Aku atau dia. Berkaitan dengan POV kedua atau ketiga yang menyangkut dengan kisah orang lain, alangkah baiknya bila kita memonta izin dulu pada yang empunya kisah. Ya, hal ini penting untuk menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan di kemudian hari loh! Hihihi….. J
Soal ending, alangkah baiknya bila tidak menggantung dan menyisakan pertanyaan yang mendalam di lubuk hati pembaca. Berikanlah sebuah conclusion yang mengandung hikmah baik secara implicit maupun ekspilsit.
Misalnya : saya menulis kisah ttg ketika saya bercerai dengan suami. setelah semua keributan berakhir, saya menangis, dan saat itulah saya sadar, bahwa Tuhan itu luar biasa baik hati. Dia menguji kita dengan cara yang tak terduga dan ketika kita lulus ujian itu, ada banyak kebahagiaan yg menanti untuk dijemput oleh kita. bukankah itu juga hikmah ? bagi diri saya, kisah itu merupakan hikmah. mungkin kelak diantara sekian puluh juta orang ( halah, lebay banget ya..hihihi) yang membaca kisah itu, ada satu yang bilang, "aduuh... ceritanya gue bangeeet !"


“….Pikirkanlah 5 atau 10 tahun dari sekarang, Ketika generasi kesekian membaca kisahmu, dan dia tersenyum karena memiliki pengalaman yang sama denganmu. Atau dia menangis karena bersedih untukmu. Atau dia terobati karena engkau menyuarakannya. Tidak banyak. Hanya kejadian kecil…” (Anonim)
 NB : Tangkap satu cerita kecil dari episode kehidupan kita, dan kembangkan itu menjadi tulisan ringan yang menarik. Karenanya, saya selalu berprinsip dalam hidup, yaitu “perhatikan hal-hal kecil di sekitar kita, dan temukan keajaibannya…”
Akhir kata, tips menulis itu ada 3 yaitu :
1.      Menulis
2.      Menulis
3.      Menulis
So, selamat menulis !!! J
Sumber : notes FB Mba Lygia Pecanduhujan dengan sedikit gubahan

Kata Pengantar di Badan Email untuk Lomba

Assalamu'alaikum..... hollaa... jumpa lagi nih..... materi kali ini juga hasil gue berselancar di dunia FB..... Yuuk simak !



Bahwa saat kita mengirimkan naskah ke panitia ajang lomba (apa pun itu), selayaknya kita menuliskan kata pengantar di badan email.
Ringkas, sopan dan jelas, tanpa berbelit-belit.

Bahwa bagaimana pun seperti halnya kita bertandang, kita wajib mengetuk pintu....  menyapa salam. Begitu juga saat kita mengirimkan email kepada panitia.  Lupakan bahwa dia adalah sahabat baik kita, pacar, tetangga, atau suami. Dengan kata lain, kita tdk mengenal mereka, selain saat itu sebagai PANITIA.
Pakailah bahasa yang resmi dan bena, tanpa menyebutkan nama.  Apalagi panitia cara biasanya terdiri dari beberapa orang....  jd jgn sebutkan nama, tp sebutkan saja : panitia acara.

Misal :
Kepada YTH
Panitia Lomba Penulisan Cerpen anu di Tempat.

Dengan ini saya sertakan cerpen saya yang berjudul.............     untuk dapat diikutsertakan dalam ajang lomba ini. Juga saya lengkapi dengan identitas diri dan .... bla.. bla.. bla...
......
....

(itu salah satu contoh saja)...
Bagaimana pun namanya aja lomba.... nggak cuma isi pokoknya aja yg dilirik, tp juga bagaimana performa (dalam hal ini penyampaian, email atau kata pengantar) bisa menambah nilai....

Selayaknya juga gak cuma dalam lomba aja, tetapi juga dalam pengiriman naskah2 lain yang terkait dengan pengiriman utk suatu lembaga/majalah atau event....

(Hindari kalimat : "Heii, riiinnn gue kirim cerpen neehh..., cepet  baca, GPL  dan muat ya... awas loh kalo nggak!"  sumpah ini isi badan email yg aku berharap tdk menemukannya lagi :)

Tips Memikat Hati Redaksi

Assalamu'alaikum..... hollaa... jumpa lagi nihh... hmm.... berhubung tadi abis berselancar di facebook, terus nemuin dokumen yang OK punya di salah satu grup yang gue ikutin..... Nah, gue mau share deh ah... ! Biar punya manfaat bagi semua ! Oke ?



*Sekedar share, semoga bermanfaat buat kita semua, (sumber : https://www.facebook.com/home.php?sk=group_170967649592856&view=doc&id=212626088760345)

Sobat, apa yang kalian rasakan ketika cerpen kalian dimuat oleh sebuah media, entah itu majalah, tabloid, koran, maupun media online. Kalo boleh curhat nih ya, ketika Annida memuat cerpen saya “Bidadari di Lampu Merah” tahun lalu, saat itu mungkin saya dalah orang paling norak sedunia, bayangin aja, saya langsung update status di facebook, nyebarin link cerpen saya ke wall temen-temen, saya langsung telpon Amak saya di kampung, pokoknya saya ingin seisi dunia tahu cerpen saya dimuat di Annida. Norak banget kan ya? Hehee
          Saya yakin kok, bagi sobat yang cerpennya dimuat untuk pertama kalinya akan melakukan hal yang sama. Saya rasa itu wajar, sebab semua usaha yang kita lakukan dihargai dengan tampilnya karya kita di media massa, lalu semua orang membacanya. Oh, rasanya sungguh luar biasa!
          Nah, saya mau share bagaimana cara “memikat” hati redaksi agar cerpen kita dilirik dan dimuat di media mereka. Ini berdasarkan pengalaman aja ya:
  1. 1.   Kenali Medianya
Gak lucu dong, kamu mengirim cerita anak-anak ke majalah dengan market utamanya remaja, alias salah kamar. Sampai pikun pun kamu tungguin, cerpenmu gak akan pernah dimuat. So, kenalilah media yang ingin kamu tuju dengan membaca minimal 3 edisi terakhir! Dengan begitu kamu bisa tahu cerpen seperti apa yang menjadi khas media tersebut, macam Annida, yang terkenal dengan cerpen-cerpen bernuansa Islami, penuh makna, dan menginspirasi banyak pembacanya.

  1. 2.   Buat Judul yang “Eye Catching”
Tau kan maksudnya? Agar redakturnya tertarik dengan naskah kamu, maka buatlah judul semenarik mungkin, bikin penasaran, dan menggelitik untuk segera dibaca! Misalnya kamu bikin judul “Cinta Segi Tiga” itu mah udah terlalu biasa, pembaca sudah langsung menebak kalau kamu pasti bercerita tentang seorang wanita yang diperebutkan oleh dua pria atau sebaliknya.

  1. 3.   Berhenti Jadi Anak Alay
Yups! Berdasarkan pengalaman saya dalam beberapa pelatihan menulis, redaksi tertentu sangat membenci yang namanya tulisan Alay. Masih blom ngerti? Saya kasih contoh deh. “aY@hQu seoRanG p3l4uT”. Kritingkan mata kamu baca tulisan kayak gitu? Hehee. Jadi tulislah judul dan isi cerpenmu sewajarnya! Cukup gunakan font, margin, space, dan size yang umum digunakan. Jangan sekali-kali menggunakan huruf yang meliuk-liuk dan warna-warni atau naskah dikasih border dengan gambar yang aneh-aneh semacam love dan buah-buahan yang gak jelas, karena itu sangat tidak keren, Sob. Percaya deh. Hehee

  1. 4.   Don’t Push Redaktur!
Nah, ini yang gak kalah penting. Ketika kamu sudah susah-susah menulis cerpen kamu yang paling keren, tapi dalam proses pengirimannya kamu lupa satu hal kecil yang sebenernya mempunyai dampak paling besar. Apa itu? Ketika kamu mengirim naskah kamu via e-mail, gak ada salahnya dong kamu menyapa redaksi di badan e-mail kamu. Analoginya ketika kamu bertamu ke rumah tetangga, kalo kamu langsung nylonong tanpa mengucapkan salam, bisa-bisa kamu diteriakin maling kan? Nah, begitupun dengan redaksi, coba deh kakak redaksinya disapa dengan bahasa yang sopan dan manis. Bukan maksud sok kenal sok dekat sih, tapi setidaknya itu akan meninggalkan kesan di hari redaksi ketika mereka menerima naskah kamu. Buatlah pengantar dengan bahasa yang well educated, tidak menekan redaksi. Misalnya kayak gini.
Assalamualaikum,
Yth Redaksi Annida,
Hai Nid, apa kabar? Semoga tetep semangat ya. Berikut saya kirimkan naskah saya…….. blablablabla…….., semoga layak tayang di Annida ya.

Wassalam,
Fulan
          Bandingkan dengan ini
          Kepada Redaksi Annida, saya kirimkan cerpen saya…..tolong dimuat, kalau dalam waktu seminggu tidak dimuat, naskah akan saya tarik. Terima kasih.
Beuh! Mungkin redaksi akan bilang “emang lo siape?”. Hehee.
Nah, demikian dulu ya sobat, tips dari saya, semoga bermanfaat (*)

Tips untuk Jadi Remaja Islam Oke !


Seorang remaja mempunyai andil besar bagi perubahan lingkungannya. Ia pun mampu membawa teman-temannya agar sadar dan mengenal Islam. Sudah saatnya remaja peduli bahwa siapa lagi yang akan memperjuangkan Islam di tengah-tengah masyarakat kalau bukan mereka? Dulu ketika SK jilbab belum keluar, remaja juga yang bergerak dan berjuang. Itu hanya salah satu contoh. Sekarang pun di saat kesadaran berislam sudah tinggi, saatnya remaja berperan untuk membuat masyarakat rindu Islam kaafah yaitu dengan diterapkannya syariah Islam dalam naungan Khilafah.

Ketika ada teman yang gak sholat, pacaran aja kegiatannya, dugem, dan banyak aktifitas maksiat lainnya, siapa yang bisa menyadarkan mereka? Bukan para kyai, bukan para guru, bukan pula para dai tua yang seringkali tak paham dengan karakter remaja. Jadi yang paling efektif menyadarkan mereka adalah teman-temannya sendiri yaitu kamu sebagai generasi muda.

Jangan panik dulu. Jangan merasa berat dengan tugas sebagai remaja muslim yang kamu emban. Di bawah ini ada beberapa tips agar kamu jadi remaja yang oke dalam berdakwah di lingkungan kamu. Simak baik-baik ya:
1.    Niat
Dari awal, niatkan semua usaha kamu karena Allah semata. Jangan sampai ada niat untuk sombong dan merasa benar sendiri. Juga jangan sampai ada kesan menggurui dan menganggap bodoh teman yang sedang kamu dakwahi. Petunjuk itu dari Allah. Lakukan upaya maksimal dalam menyadarkan teman dan jangan lupa berdoa untuknya agar segera kembali ke jalan yang benar. Karena sungguh, tidak ada yang mampu memberi jalan bila sudah disesatkan oleh Allah dan tak ada yang mampu menyesatkan bila sudah diberi petunjuk oleh-Nya. Jadi jangan lupa berdoa ya.
2.    Lakukan apa yang kamu katakan
Ngomong gampang, tapi melakukannya itu yang butuh upaya lebih. Kalo kamu Cuma bisa ngomong tanpa melakukan apa yang kamu omongkan, maka orang lain terutama teman-temanmu tak akan percaya padamu lagi. Misal nih, kamu bilang pacaran haram dan dosa tapi kamu sendiri malah suka mojok berduaan dengan lawan jenis. Sama juga bo’ong kalo gini caranya. Selain dosa karena kamu berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang non mahrom), kamu juga dosa karena bisa ngomong tapi gak bisa melakukan omonganmu dengan konsisten. Dobel dosa tuh. Jangan sampai ini terjadi loh.
3.    Gunakan Qur’an dan Hadits
Dalam berdakwah, gunakan Qur’an dan hadits sebagai acuan, bukan kata si A dan si B atau bahkan kata nenek moyang. Banyaklah baca buku-buku keislaman dan pahamilah wawasan keislaman itu sendiri. Jangan sampai kamu menyampaikan sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya. Jadikan sirah (sejarah) Rasulullah dalam berdakwah sebagai panduan kamu ketika berdakwah di lingkungan teman-temanmu.

Harap kamu tahu, Rasulullah oke banget loh dalam menyampaikan dakwah di semua kalangan termasuk juga para remaja dan pemuda. Salah satunya adalah ketika ada seorang pemuda yang mendatangi Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasul, saya ingin masuk Islam tapi saya masih hobi berzina.” Apa jawab Rasulullah? Bukannya marah tapi beliau dengan tenang menjawab, “ Kamu punya ibu? Punya saudara perempuan? Bagaimana perasaanmu bila ibu atau saudaramu yang perempuan dizina-i oleh laki-laki?” Sejak saat itu, pemuda tersebut langsung bertaubat, masuk Islam dan tidak pernah lagi melakukan zina.
4.    Berbicaralah pada orang lain seakan-akan baru mengenalnya
Maksud dari poin ini adalah jangan berusaha sok tahu tentang seseorang hanya dengan melihatnya sekilas saja. Berbicaralah dengan ramah dan penuh perhatian sehingga orang yang akan didakwahi merasa nyaman dan kemudian percaya. Jangan terkecoh dengan penampilan. Misalnya saja seorang yang mengaku dirinya muslimah tapi pakaiannya selalu ketat dan mengumbar aurat. Jangan langsung berpikiran sok tahu yang negative bahwa dia itu pastilah seseorang yg pembangkang dan durhaka karena tidak menutup aurat. Kenalilah kepribadiannya lebih jauh.

Karena bisa jadi ia berpakaian seperti itu bukan karena ingin membangkang perintah Allah tapi benar-benar tidak tahu batasan aurat perempuan dalam Islam. Atau mungkin salah seorang teman kamu yang tak pernah sholat Jumat. Kenalilah dirinya lebih jauh dan jangan langsung berprasangka buruk. Ada banyak laki-laki yang tidak sholat Jumat karena keluarganya tidak pernah mengajarinya dan ia pun tidak tahu hukumnya. Jadi , tugas kamu nih untuk mendekati orang-orang semacam ini untuk memberikan pencerahan bagi kehidupannya sebagai seorang muslim yang baik.
5.    Tersenyumlah
Tahukah kamu bahwa Rasulullah SAW itu suka sekali tersenyum loh. Tapi anehnya banyak para dai yang sukanya malah pasang tampang serius dan cemberut daripada tersenyum. Nah, kamu jangan ikut-ikutan yang model begini yah.

Tersenyum, berperilaku sopan dan baik adalah sikap Rasulullah yang harus kita amalkan seharui-hari. Jika kita ingin orang lain dekat dan menerima dakwah kita maka usahakan kita bersikap ramah pada mereka. Tersenyum adalah salah satu kunci dari keramahan ini.

Yang patut diingat adalah tersenyum disini konteksnya adalah ramah secara umum dan tidak bermaksud tebar pesona pada lawan jenis. Bagaimana pun Islam mempunyai aturan dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Bukan karena alasan dakwah trus seenaknya saja berdua-duaan dengan lawan jenis, misalnya. Nah, agar tidak timbul fitnah, usahakan berdakwah fokus pada sesame jenis. Cowok yang berdakwah ke kalangan cowok. Begitu juga cewek dakwahnya juga ke lingkungan cewek saja.
6.    Bersikap aktif dan berbaur
Langkah awal bagi keberhasilan dakwah adalah bersikap aktif dan berbaur dengan objek dakwah. Sering-sering ngobrol dengan mereka yang ingin kamu dakwahi. Bisa juga kamu mengundang mereka untuk buka puasa bersama saat Ramadhan atau kajian remaja yang kamu kemas dengan santai. Jadikan mereka percaya bahwa kamu adalah tempat yang asyik untuk curhat, berbagi cerita baik suka maupun duka. Mengerjakan PR bareng, menenangkan di kala mereka gundah, atau sekedar menjadi teman yang baik ketika mereka butuh curhat dan diskusi. Dan yang utama, kamu harus bisa menjaga rahasia karena mereka sudah percaya sama kamu. Tapi bila keadaan berubah menjadi serius dan berbahaya, misalnya saja ada yang berniat bunuh diri karena frustasi menghadapi masalahnya, maka jangan segan-segan menghubungi orang yang lebih dewasa untuk menyikapi masalah ini.
7.    Tunjukkan Islam itu sesuai untuk semua kalangan
Sering remaja menganggap bahwa Islam itu kuno dan ketinggalan zaman. Tunjukkan pada mereka bahwa pendapat ini salah. Tunjukkan pada mereka bahwa Islam itu berasal dari Allah yang tentu saja sesuai dengan zaman apa pun dan bagi siapa pun termasuk remaja juga. Yakinkan mereka bahwa Allah begitu dekat bahkan melebihi urat nadi kita sendiri. Allah juga Mahamelihat dan mendengar. Allah tempat meminta dan tumpuan semua keluh kesah dan gundah kita. Tunjukkan juga bahwa Islam itu sesuai dan cocok untuk remaja. Islam mempunyai semua jawaban yang diinginkan remaja tentang pencarian jati diri yang tidak semua agama bisa menjawabnya.
8.    Libatkan mereka dalam kegiatan social
Ajak para remaja itu untuk terlibat dalam kegiatan social. Misalnya saja dengan mengadakan baksos di daerah-daerah miskin agar mereka lebih menghargai sesama dan pandai bersyukur. Atau bisa juga mengajak mereka dalam sebuah kepanitiaan atau peserta seminar Islam untuk remaja. Keterlibatan seperti ini membuat mereka menjadi bagian dari umat dan merasa berharga. Jangan lupa setelahnya kamu harus berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan untuk sesama.
9.    Tanyakan 4 pertanyaan mendasar
Ketika pertemanan semakin erat, topic yang dibahas biasanya juga mengarah semakin serius. Kamu bisa mendiskusikan tentang cita-cita dan rencana mereka di masa depan. Ada 4 pertanyaan yang bisa mengarahkan topic agar remaja lebih mengenal Allah dan Islam:
1.    kemanakah aku setelah kehidupan ini berakhir
2.    apa yang membuat aku bahagia
3.    Kepada siapakah aku seharusnya berterima kasih dan bersyukur
4.    apakah saya bisa sukses tanpa bantuan orang lain
10.    Tekankan sholat wajib 5 kali sehari sebelum kewajiban lainnya
Hubungan dengan Allah secara pribadi itu ada pada kewajiban sholat 5 waktu. Jangan memberikan banyak materi lain lebih dulu sebelum kesadaran untuk sholat wajib 5 waktu bisa terlaksana dengan baik. Tekankah bahwa dengan sholat saja hubungan dengan Allah terjalin secara langsung tanpa perantara. Hanya Allah saja tempat bersandar jika manusia menghadapi masalah. Sholat adalah saat yang tepat untuk meminta pertolonganNya. Jika mungkin, usahakan untuk sholat berjamaah ketika kamu sedang ngobrol santai dengan mereka. Ketika sholat ini sudah dijalankan dengan konsisten, maka hal-hal lain akan lebih mudah untuk diingatkan misalnya saja tidak boleh memaki, patuh pada orang tua dan cara berpakain yang menutup aurat sesuai dengan syariat Islam.
11.    Bantulah mereka untuk mempercayai orang dewasa
Biasanya remaja memandang orang dewasa dengan pandangan miring seolah-olah dunia mereka benar-benar berbeda. Orang dewasa dianggap tidak pernah memahami dunia remaja dan anak muda dengan tepat. Nah, dalam hal ini kamu kudu berperan untuk menumbuhkan rasa percaya pada remaja terhadap orang dewasa. Misalnya saja dengan memuji seorang penceramah yang kena di hati remaja, para aktivis yang peduli dengan dakwah demi kebangkitan umat dan lain-lain. Memang sih, merubah sudut pandang mereka tidak  bisa dengan mudah tapi paling tidak mereka nantinya bisa memahami pendapat orang tua di rumah.
12.    Jangan pergi ketika mereka sedang down
Ingat, ketika seseorang sudah mulai mau menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan teratur, tidak berarti urusan sudah selesai. Akan ada ujian dan cobaan dalam hidup yang kadang bisa membuat futur/down atau lemah iman seseorang. Ada kalanya mereka mempertanyakan lagi keadilan Tuhan akan jalan hidup sulit yang mereka tempuh. Jangan putus asa apalagi tega meninggalkan mereka. Dampingilah para remaja ini untuk kembali menemukan jati diri keislaman mereka.

Semoga beberapa tips di atas bisa kamu jadikan alat untuk mendekati teman-teman kamu dalam berdakwah. Dan yang utama, kamu jangan lupa meminta pada Allah untuk dimudahkan langkahmu juga lisanmu dalam menyampaikan kebenaran. Semoga Allah menyertaimu selalu.

Sumber: www.voa-islam.com