Tampilkan postingan dengan label tulisanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisanku. Tampilkan semua postingan

Menulis Dengan Hati

"Loh, kok nulis pake hati sih? Kan pake tangan!"
"Yeh... nulis tuh pake pena, tauk!"
"Ah, kalau aku sih pake keyboard, hehehe...."
"Semuanya nggak bakalan jadi kalau nggak ada niat buat nulis. Dan taukah kalian niat itu datang darimana? Dari lubuk hati yang terdalam...."

Wuess.... percakapan yang terakhir itu loh. Hmm.... kalau mendengarnya langsung, bener2 membuat 'ambles' hatiku. Hihihi.... Kalau dipikir2 emang bener juga sih. Kan ada yang bilang kalau awwalu binniat. Lah, kalau emang nggak ada niat awal buat nulis ya.... ke laut aka deh lo! *berenang ama paus, qiqiqiqi :)

Setelah itu, saya merenung. (gara2 kebanyakan merenung, tulisannya kagak jadi2, wkwkwk). Suasana apapun sangat besar pengaruhnya dengan hati saya. Bisa suatu ketika saya hepi2, eh lain kali saya termehek2 gara2 kehilangan. Bisa saya khawatir karena ketidakpastian, bisa juga lega karena karena berhasil melewati sebuah perjuangan. Hmm.... dan saya akui bahwa semua kondisi itu benar2 murni curahan ekspresi dari lubuk hati saya yang paling dalam.

Hari demi hari.... Saya mencoba berteman dengan suasana hati saya. Alhasil, terciptalah sebuah tulisan yang membuat saya sedu-sedan sendiri. Ah, tidak usah saya tuliskan ceritanya ya. Saya bisa2 terbawa emosi kalau menulsikannya lagi. Yang pasti gambaran saya saat menulis saat itu adalah menulis dengan segenap perasaan saya. Saya tumpahkan saya apa yang ada di otak saya dan saya sambungkan dengan sinyal2 saraf menuju ke hati saya. Fiuhh.... saya lega.

Sejak itulah saya menuliskan sebuah kalimat sendiri (alias quote bikinan sendiri) --> buat yang mau copas silahkan tuliskan nama saya di belakangnya ya.... Biar ngetop juga kayak Om Mario Teguh.... (*ngarep.com)

Menulislah dengan hati sebab hati adalah telaga inspirasi yang akan menuangkan beragam ekspresi
(Alina Sitha)

Kadangkala di saat saya menulis nggak pake perasaan alias asal jadi ajah, hmm.... saya sendiri nggak respect tuh ama tulisan saya... hiks.... hiks.... Pas saya kasih ke orang lain buat nilai tulisan saya, sudah saya duga sebelumnya. Mereka langsung berkata, "Kok tulisanmu kayak gini sih? Nggak ada nyawanya!" 

Bletaak! Bener2 remuk nih tulang2 berasa kayak ditampar! (nggak nyambung) Yang jelas hancurlah perasaan saya... (duileee.....) Lalu, saya tumpahkanlah kekecewaan itu ke dalam untaian kata penuh makna... Dan hasilnya.... Jreng.... jreng.... jreng... AJAIB! Itu menurut saya sebab saya tidak mau memberikan tulisan isi curhatan nggak penting saya ke orang lain, hehehehe.....

Ya udah lah ya... Kali ini perasaan hati saya lagi campur aduk, jadi mohon maaf aja kalau tulisannya juga campur aduk, kagak jelas sehingga membuat anda terkantuk-kantuk sampe geleng2 kepala... Hehe....

Sekian infotainment dari saya. Hayooo.... pada sayang2in hati ya... biar nggak sakit hati. Hihihi.... ^_^

Dalam Larat

Assalamu'alaikum..... hollaa... jumpa lagi nihh... kali ini gue mw nulis PUISI.... wew.... udah lama tuh gue nggak nyinggung2 puisi kan yak ?? Cekidot dah !

Dalam Larat
Oleh : Alina sitha

Dia terkurung penjara hedonis
Tenggelam dalam gerimis
Raganya kiam redam
Bagai ayam diasak malam

Dia telah menapaki senja
Menyusuri masa yang meleja
Berteman serbuan ilat
Tangisnya lasat

Sepertiga malam ia terjaga
Dengan peluh penuhi raga
Hanyalah hibat tersirat
Jadikannya basat

Inspirasi Penulis: Ceritanya tentang orang susah yang hidup dalam dunia metropolitan. Dia berteman dengan malang tetapi tetap berdoa mengharap ridho Allah SWT.

Dalam Bayang Hujan

Assalamu'alaikum..... hollaa... jumpa lagi nihh... kali ini gue mw nulis hasil FAST WRITING dengan teman2 sesama minat....


Jadi, ada beberapa tema yang sudah dituliskan dalam gulungan kertas. Nah, kita harus memilih salah satu dari tema tersebut dengan acak alias kocok. Dan ternyata terpilihlah  'HUJAN' sebagai kata kunci untuk fast writing kali ini yang mengharuskan kita menuliskan apapun tentang hujan, yang terlintas di pikiran, boleh itu cerpen/ artikel/ narasi. Namanya FAST, berarti cepat. Yup, waktunya cuma 10 menit. Woow.... mantap gak tuh ?


Dan inilah hasil oret-oret gue selama sepuluh menit. Cekidoot !! ^_^


Dalam Bayang Hujan



Kinan duduk di beranda. Matanya jauh memandang langit.  Benaknya menerawang kembali ragam memori yang terjadi tepat setahun lalu. Ya, setahun lalu saat dirinya masih tertawa lepas dan bebas menceritakan  keluh kesahnya pada seorang wanita yang kini telah pergi meninggalkannya.

Dua bulan lalu, itu adalah saat yang sangat membuat Kinan terpukul. Biarpun ia telah mendapatkan kabar gembira bahwa ia akan segera melangsungkan wisuda, ia tidak bisa tersenyum bahagia.

“Kinan, sepatlah pulang!”

Itulah SMS yang ia dapatkan dari Om Ridho. Saat ia menelepon Om Ridho, barulah ia tahu ada berita bahwa ibunya sedang sakit.

Suasana di luar hujan deras. Namun, bayangan ibunya selalu terlintas dalam benaknya. Sungguh baru kali ini ia merasa begitu kalut saat mendengar berita tentang ibunya yang sakit. Ia pun memutuskan untuk tetap pulang ke rumahnya yang membutuhkan waktu delapan jam dari kota tempatnya menuntut ilmu.

Derai hujan yang semakin lama bertambah deras seolah mewakili jeritan hati Kinan yang benaknya tiada henti memutar memori tentang ibunya. Senyumnya, tawanya, tangisnya wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya hadir silih berganti. Tidak sadar, matanya pun telah sembab karena basah oleh airmata.

By : Alina Sitha


Ada komentar ? Dipersilakan yah......... :)


Kamut (11-20 dari 100)

Assalamu'alaikum..... hollaa... jumpa lagi nihh... kali ini aku mau nulis lanjutan kamut yang tertunda lamaaa sekali..... cekidoot !!


  1. Bekerja keras adalah bagian dari fisik, bekerja cerdas merupakan bagian dari otak, sedangkan bekerja ikhlas adalah bagia dari hati
  2. Pekerjaan tersulit dalam kehidupan adalah membersihkan nafsu dari kotorannya
  3. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan kecerdasan, tapi cerdas tanpa hati nurani lebih berbahaya karena bisa membuat kejahatan yang lebih dahsyat
  4. Jagalah hati dari bersemainya bibit kesombongan dan kedengkian sebab jika bibit-bibit seperti itu tumbuh maka lambat laun hati kita akan mati
  5. Banyak orang menginginkan kebahagiaan, namun seringkali justru sebaliknya yang didapatkan, sebab dia salah dalam memahami arti kebahagiaan itu sendiri
  6. Seni yang paling baik dalam bersilaturahmi adalah banyak-banyak mengingat dan mengakui kekurangan dan kesalahan diri sendiri
  7. Allah SWT sebenarnya telah mendisiplinkan kita melalui waktu-waktu shalatnya
  8. Bukti ketakwaan adalah bertawakal dengan baik terhadap apa yang belum dicapai, merasa ridho terhadap apa yang belum diperoleh , sabar terhadap apa yang luput dari genggaman
  9. Orang yang sukses sejati adalah orang yang terus berusaha membersihkan hati
  10. Amal saleh adalah segala perbuatan yang beguna bagi pribadi, keluarga, dan manusia secara keseluruhan dengan dasar keimanan

Sampai jumpa di edisi kamut berikutnya..... ^_^

Salam.... Alina_Sitha

Sebuah Nama Sebuah Cerita

Assalamu'alaikum..... hollaa... jumpa lagi nihh... kali ini gue mw nulis kembali apa yang menarik perhatian gue.... yuuk simaak !


Bukan hanya sekedar judul, melainkan merupakan rangkaian kata yang memiliki makna. Di dalamnya tertuang kisah mengenai sebuah perjalanan yang dirintis dari titik nol hingga melambung setinggi langit. Tidaklah merupakan kisah yang hanya diwarnai dengan kebahagiaan, tetapi halang rintang juga ikut mewarnai perjalanan empat sekawan yang tergabung dalam peterpan.

Peterpan. Nama itu menjadi akrab di telingaku sejak pertama kali mendengar lantunan Mimpi Yang Sempurna dalam album kompilasi Kisah 2002 Malam pada tahun 2002. Suara Ariel yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi band poprock asal Bandung itu. Semenjak itulah, lagu-lagu dari band fenomenal itu menemani hari-hariku.
Aku mengenal peterpan saat masih duduk di bangku SMP. Waktu itu, peterpan memang menjadi band favorit di sekolahku. Lagu-lagunya yang simple dan enak didengar membuatku mudah mengingat lirik lagunya. Bahkan, dari sekian banyak lagu peterpan yang aku tahu saat itu, tiga diantaranya memiliki kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan hingga sekarang.
Aku dan Bintang. Gara-gara sama-sama suka sekali dengan lagu itu, aku jadi berteman akrab dengan sahabatku hingga sekarang. Seorang sahabat yang dulu sering membawakan lagu ini dengan petikan gitarnya. Seorang sahabat yang selalu ada saat suka maupun duka.
Yang Terdalam. Awalnya lagu ini akan dijadikan lagu pembuka untuk pementasan musik saat aku SMP dulu. Dengan segala daya dan upaya, aku pun mencari not balok dari lagu yang bernada sedikit sendu itu. Hanya saja, karena selera teman-teman satu kelompokku menginginkan lagu yang bernada beat, not balok itu hanya tersimpan dalam memori dan selembar kertas yang takkan kulupakan hingga saat ini.

Semua Tentang Kita. Berlainan cerita dengan kedua judul lagu di atas, lagu ini sangat memberikan inspirasi padaku. Saat mendengar lagu ini, aku teringat pada nenekku yang sudah lama meninggal dunia. Saat aku SMP dahulu, hal itu yang membuatku bersikeras mencari not baloknya. Bertepatan dengan itu, aku sedang mengikuti sebuah perlombaan tingkat kota. Dalam perlombaan itu mengharuskan setiap pesertanya menunjukkan kebolehan dalam bidang kesenian. Tanpa pikir panjang, aku langsung memilih lagu ketiga di album Taman Langit ini sebagai ‘senjataku’ dalam lomba. Dan alhamdulillah, lagu ini menjadi bagian dari kemananganku yang berhasil membawa pulang piala sebagai juara kedua dalam perlombaan itu.
Nah, ketiga lagu kenangan itu, semuanya tergabung dalam sebuah album, Album Sebuah Nama Sebuah Cerita,  yang merupakan album terakhir peterpan sebelum mengalami reinkarnasi dengan nama lain. Album ini menjadi rangkuman dari sekian banyak lagu hits Ariel cs. Mendengarkan seluruh lagu dalam album ini seperti mendengar sebuah cerita. Cerita tentang band petepan yang menjadi fenomenal ketika meraih segudang prestasi mulai dari mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri hingga penghargaan platinum dan multi platinum serta cerita tentang musik peterpan yang menjadi trendsetter musik bagi band-band berikutnya. Benar-benar merupakan sebuah penutup yang indah.
Prestasi yang diraih oleh Peterpan benar-benar memberikan suntikan semangat untukku untuk lebih giat belajar. Semangat mereka membuat aku mengerti betapa pentingnya sebuah kerja keras untuk meraih sebuah keberhasilan.
Ada bahagia, ada juga sedih. Kesedihan itu ikut mewarnai perjalanan peterpan yang sedang berjuang untuk melakukan reinkarnasi musik mereka sejak ditinggalkan dua personilnya. Ya, masalah hukum menjerat salah satu personil mereka. Siapa lagi kalau bukan Ariel sang vokalis.
Ariel, Ada apa denganmu ? Sayangnya, aku masih belum mengerti sepenuhnya akan semua yang terjadi pada vokalis band favoritku itu.
Nama peterpan yang memang sudah lama tidak terdengar semakin tenggelam ditelan arus musik yang tiada henti berinovasi dengan pendatang baru. Ada yang mendukung untuk melanjutkan perkara, tidak sedikit pula yang meminta untuk menghentikan. Manusia memang tiada yang sempurna karena manusia tempatnya salah dan khilaf. Semoga saja itu semua bisa menjadi pembelajaran bagi Peterpan dan Ariel khususnya.
Dunia memang terkadang kejam, tapi ingatlah bahwa Allah SWT tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu merubah keadaan mereka sendiri. Perubahan itu perlu, terutama menuju ke arah yang lebih baik. Menggapai memang sulit, tapi mempertahankan akan lebih sulit.
Memiliki sahabat dalam suka dan duka adalah impian setiap manusia sebagai makhluk sosial. Berbahagialah karena memiliki kami sebagai sahabat peterpan yang akan selalu mendukung kalian.
Peterpan, dari lubuk hatiku yang terdalam aku ingin bertanya, “Harus berapa lama aku menunggumu ?
Peterpan, buka dulu topengmu dan berjalanlah walau habis terang. Jangan terlalu lama menunggu pagi hingga bintang di surga enggan bersinar lagi.
Peterpan, memang semua tak ada yang abadi, semua akan hilang terbawa arah. Tapi, namamu akan tetap selalu ada di dalam hati sahabat.
Peterpan, dan mungkin bila nanti kalian akan kembali, kukatakan dengan indah di balik awan, “mimpi yang sempurna di atas normal tidak akan menghapus jejakmu di kota mati, tetapi hatiku selalu meninggikanmu hingga ke taman langit untuk kembali mengukir kisah semua tentang kita agar kita tertawa.

by : Alina Sitha

Wanita Berteknologi, why not ?

Berbicara mengenai teknologi, berbicara mengenai perkembangan zaman. Seperti yang telah kita ketahui bersama, era globalisasi telah membawa dampak berupa kemajuan teknologi yang begitu pesat. Informasi kini bisa diakses secara online di mana saja dan kapan saja. Begitu pula dengan komunikasi yang sudah begitu canggih dengan hadirnya berbagai ponsel dengan fitur variatif.

Sebuah penelitian Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI, pada bidang teknologi, khususnya TI diperoleh hasil bahwa teknologi informasi dan komunikasi masih sangat dekat dengan identitas laki-laki sedangkan wanita sering kali hanya sebagai objek. Sedangkan kuantitas jumlah wanita hampir separuh dari penduduk Indonesia yang merupakan potensi jika diberdayakan dengan baik.

Wanita berperan cukup besar dalam ketahanan ekonomi karena mampu menciptakan lapangan kerja. Ya, telah diketahui bahwa 60% pengelola usaha mikro, kecil, dan menengah pada tahun 2008 adalah wanita. Pemerataan gender sejak era kartini memang terus meningkat dan berkembang. Wanita tidak lagi harus diam, tapi mereka bisa memperoleh hak yang sama dengan pria dengan sebuah kata kunci kebanggannya yaitu emansipasi wanita.

Penggunaan Teknologi Informasi bisa membantu wanita di beberapa bidang seperti perdagangan dan kewirausahaan sebagai sumber informasi dan sebagai sarana untuk mempromosikan dan memasarkan produk mereka. Sepertinya bukanlah suatu hal yang rahasia jika pelaku sekaligus sasaran pasar bisnis itu kebanyakan adalah kaum wanita. Sebut saja berbagai macam MLM yang kebanyakan memproduksi dan memasarkan barang-barang kebutuhan wanita. Bahkan, tidak jarang system pemasaran yang dipakai adalah system online.  Pemanfaatan internet untuk bisnis online banyak dimanfaatkan oleh wanita karena lebih fleksibel menjalankan bisnisnya dari rumah sehingga tugas dan tanggungjawab terhadap keluarga masih terpenuhi.

Teknologi  komunikasi internet dapat membuat  peran wanita lebih dioptimalkan. Melalui perangkat internet seperti  website, facebook, twitter, blog dan lain-lainnya   jejaring sosial dapat diperluas dalam waktu yang singkat. Apalagi sekarang ini,  perkawinan ponsel dan internet, satu orang dapat menjangkau  banyak orang diberbagai tempat . Melalui internet, wanita dapat membangun komunitas di dunia maya sehingga jaringan pertemanan dan bisnis bisa lebih luas. Istilah jarak memisahkan kita seolah tidak lagi tergaung selama ujung kabel koneksi dan pulsa (tentunya) terus tersambung dengan baik.

Memahami kemajuan perkembangan teknologi dan terus mengikuti dengan sikap selektif pasti akan sangat bermanfaat. Apalagi bagi para wanita yang masih cenderung bersikap acuh terhadap teknologi. Sejauh kegiatan itu bersifat positif, terimalah dengan terbuka. Lagipula, tidak ada salahnya mencicipi hal baru yang ternyata bisa membawa kemajuan bagi pemberdayaan wanita di segala bidang.

Hidup wanita berteknologi !

RUMAH CINTA 3G

Oleh : Alina Sitha

Gino dan Gina adalah sepasang suami istri. Mereka telah memutuskan menyatukan cinta mereka dalam ikatan pernikahan meskipun hanya melalui proses perkenalan yang terbilang singkat, dua bulan. Sebuah pertemuan yang tidak disengaja yang ternyata menumbuhkan benih-benih cinta yang siap mereka tuai dan tanam dalam rumah tangga mereka.

Genap setahun sudah usia pernikahan Gino dan Gina. Mereka juga sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Anggita Salsabila. Kehadiran Gita, begitu nama panggilan bayi mungil itu, membuat suasana berbeda di rumah Ibu Husna, ibu dari Gina. Belum ada yang bisa dikatakan si kecil Gita, ia baru bisa menangis.

“Mas, apa kita tidak sebaiknya membeli rumah saja ? Saya tidak enak ngerepotin ibu terus”, tanya Gina pada suatu malam.

“Mas juga maunya begitu, Dik. Tapi, uang kita belum cukup. Kalau sudah ada uangnya, Insya Allah secepatnya akan Mas carikan”, jawab Gino. Gina hanya mengangguk pelan.

Ikhtiar dan tawakkal terus dijalani kedua sejoli itu. Gino yang bekerja sebagai buruh pabrik lebih giat menyelesaikan tugasnya agar bisa mendapat tambahan bonus dari pabriknya. Sementara itu, tanpa diketahui oleh Gino, Gina tetap masuk ke kantornya di sebuah perusahaan swasta meskipun sudah mendapat izin cuti agar bisa segera menggenapkan jumlah tabungan mereka.

Enam bulan berlalu. Penantian pun terjawab sudah. Gino yang sedari pagi menyusuri jalan jauh dari pusat kota, akhirnya kembali membawa berita bahagia.

“Dik, Mas punya berita gembira nih”, kata Gino sumringah saat masuk ke kamarnya. Gina langsung mendekat tanpa berkata sepatah kata pun, ia hanya mengernyitkan keningnya saat memperhatikan wajah suaminya.

“Alhamdulillah, Dik, Mas sudah dapat rumah untuk kita. Tadi pagi Mas sudah kesana dan membayar uang mukanya. Tapi……..”. Suara Gino tiba-tiba melemah.

“Tapi apa, Mas ?”, tanya Gina bingung.

“Tapi, rumahnya tidak sebagus rumah ibumu ini, Dik. Hanya sebuah rumah KPR biasa dan baru enam bulan ke depan listrik akan dipasang”, lanjut Gino. Keduanya terdiam.

“Mas suka dengan rumah itu ?”, tanya Gina beberapa menit kemudian. Gino mengangguk.

“Kalau Mas suka, Insya Allah saya juga suka. Apapun bentuknya, bagaimanapun resikonya, saya akan siap menghadapinya karena ini sudah menjadi keputusan kita bersama. Lagipula, tidak enak kalau tinggal di sini terus”, kata Gina bersemangat.

“Subhanallah. Alhamdulillah kalau begitu, semoga cinta kita bisa mengokohkan keputusan kita ini. Sekarang kita bereskan barang-barang agar besok pamit sama orangtuamu”, kata Gino mengakhiri pembicaraan. Keduanya pun segera merapikan barang-barang mereka.

Besoknya, seusai berpamitan, Gina dan Gino segera meluncur keluar ibu kota. Gino mengarahkan sepeda motornya ke pinggiran ibu kota. Saat gapura sebuah perumahan terlihat, ia berbelok masuk ke dalamnya. Hingga akhirnya, ia berhenti tepat di depan sebuah rumah tipe 21, bercat putih, tanpa pagar dan terletak tepat di sebelah lahan sawah warga yang belum beralih fungsi menjadi hunian tinggal.

Berbulan-bulan Gino dan Gina menjalani hidup tanpa listrik, seperti kembali ke zaman batu.. Damar dan kayu bakar menjadi teman setia di waktu malam tiba. Tidur beralaskan kasur busa tipis yang hanya dikelilingi kelambu. Bunyi jangkrik dan kodok menjadi pengiring tidur setiap hari. Meskipun demikian, tidak ada tanda-tanda menyesal terucap dari perkataan maupun tergambar dari perilaku keseharian suami istri itu. Gerak-gerik mereka seolah megatakan,”Semua baik-baik saja”.

Tanpa terasa, Gita sudah memasuki usia sekolah. Gino pun berusaha untuk memperbaiki rumahnya. Dimulai dari memperbaiki atap yang bocor, mengganti kayu dengan bata, mengecat tembok, menghiasi halaman dengan berbagai tanaman dan masih banyak lagi. Ia mencoba untuk membuat rumah sederhana miliknya senyaman mungkin bagi keluarga mungilnya.

“Om Gino, kami boleh main tidak ?”, tanya beberapa orang anak kecil saat sore tiba.

Gino yang memang suka dengan anak kecil mempersilakan mereka masuk. Mulai dari bermain tebak-tebakan, bercerita, sampai tausyiah ia lakukan hampir setiap sore jika anak-anak itu datang ke rumah. Anak-anak itu terlihat menikmati kegiatan itu. Begitu juga dengan Gita, ia jadi memiliki teman bermain, ia senang sekali.

* * *
Gita terus bertambah besar. Sekarang, dia sudah duduk di kelas 6 SD. Pada saat itulah dia mendapatkan tugas dari Bu Ina, gurunya, untuk menggambar denah rumah yang bertema rumah impian yang nantinya akan dipresentasikan di depan kelas. Sepulang sekolah, ia mencari ide untuk mengerjakan tugas dari gurunya. Gambaran rumah besar, bertingkat, memiliki kolam renang terlintas dalam pikirannya. Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang rumah yang membuatnya memilih bertanya langsung kepada orangtuanya.

“Yah, kapan ya kita punya rumah besar seperti punya teman-temanku ?”, tanya Gita. “Yah, rumahnya teman-temanku kan pada besar-besar, kok mereka suka bermain di rumah kita yang kecil ini ?”, lanjutnya.

Gino memperhatikan wajah putri kecilnya itu. Dipandanginya lekat, ia mendapati wajah tulus penuh keingintahuan akan sebuah jawaban atas pertanyaannya.

“Nak, rumah besar tidak bisa menjamin kebahagiaan hidup seseorang. Rasa cinta dan kasih sayang yang tumbuh dalam keluarga akan memberikan kebahagiaan bagi setiap anggota keluarganya. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing. Berusaha tentu diharuskan karena Allah SWT tidak suka dengan orang yang malas. Tapi, tentunya jangan lupa untuk bersyukur, seperti yang tertulis dalam Surat Ibrahim ayat 7, karena jika kita bersyukur Allah SWT akan menambah nikmat-Nya kepada kita dan jika kita mengingkari nikmat-Nya maka azab Allah SWT sangat pedih”, jawab Gino.

“Berarti kalau kita rajin bersyukur, kita bisa kaya ya, Yah ?”, tanya Gita lagi.

“Kalau sudah kaya tetap harus bersyukur karena harta itu hanya titipan yang nantinya akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Terkadang orang yang kaya itu lupa, ia lebih cinta pada hartanya, padahal cinta yang seharusnya menempati urutan pertama adalah cinta kepada Allah SWT”, jawab Gino.

Gita berlari ke kamarnya. Sepertinya, ia telah mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Ia pun memutuskan untuk segera menggambar denah rumah impian yang ditugaskan gurunya. Rumah mewah kembali terlintas di pikirannya. Tapi, entah kenapa ia enggan menggambarkannya sebagai suatu rumah impian. Akhirnya, ia memutuskan untuk menggambar apa yang dilihatnya dan apa yang dirasakannya.
                                                            
Dua hari kemudian, tugas menggambar denah rumah impian dikumpulkan. Sebuah gambar sederhana di kertas millimeter diserahkan Gita kepada Bu Ina, gurunya. Atas permintaan Bu Ina, ia menjadi murid pertama yang mempresentasikan tentang rumah impiannya.

“Rumah impian saya sederhana. Terdiri dari dua kamar tidur, dua kamar mandi, ruang tamu, halaman yang cukup luas untuk menanam aneka tumbuhan dan sebuah ruangan khusus untuk tempat hewan peliharaan yang dalam hal ini adalah burung perkutut karena saya senang mendengar suara merdunya setiap hari”, jelas Gita panjang lebar di depan kelas.

“Apa judul rumah impiamnu itu ?”, tanya Bu Ina, gurunya.

“Rumah Cinta 3G yang artinya rumah sederhana tapi kualitas bermakna yang di dalamnya dihuni keluarga penuh cinta”, jawab Gita padat dan jelas, Tepuk tangan mewarnai penampilannya.

“Rumah yang bagus, Gita. Cukup sederhana, tapi ibu yakin sumber inspirasinya luar biasa”, kata Bu Ina. Gita tersenyum mendengar perkataan gurunya yang menurutnya benar adanya.

Sepulang sekolah, Gita ingin segera cepat sampai di rumah. Ia ingin menceritakan apa yang ia alami di sekolah dan sekaligus menunjukkan hasil gambarnya kepada kedua orangtuanya.

“Rumah cinta 3G ?”, tanya Gino, ayah Gita, saat mendengar cerita anaknya. Gita mengangguk.

“Itu juga bisa diartikan Gino, Gina, dan Gita. Bukan begitu ?”. Giliran Gina, ibunya Gita, yang berbicara. Ketiganya larut dalam tawa.

“Kamu terinspirasi darimana, Nak ?”, tanya Gino.

“Dari rumah kita dong, Yah. Aku hanya menggambarkan apa yang aku lihat dan aku rasakan. Aku merasakan ada cinta dalam rumah ini. Aku rasa tidak mungkin anak-anak kecil betah berlama-lama disini setiap sore karena faktanya saat ini rumah mereka lebih bagus dari rumah kita. Aku rasa juga tidak mungkin orang-orang yang mengatakan rumah kita ini seram malah memilih minum kopi bersama ayah saat malam tiba. Tapi, cinta membuat itu semua mungkin. Bukankah ibu dan ayah dipertemukan karena cinta ? Bukankah cinta juga yang mengawali perjumpaan ayah dan ibu dengan rumah ini ? Dan aku rasa cinta juga yang membuat aku bisa menerima keadaan kita apa adanya dan membuatku lebih semangat”, jawab Gita panjang lebar dengan penuh semangat.

Gino dan Gina saling berpandangan. Kedua pasang mata itu tanpa terasa sudah menitikkan airmata mendengar perkataan anak sematawayangnya, Gita. Mereka tidak menyangka kalau anak mereka yang baru berusia 12 tahun bisa berpikiran seperti itu.

“Nak, sesungguhnya cinta itu selalu memberi makna indah bagi setiap orang yang tidak memandang sesuatu dari fisiknya saja”, kata Gino. Gita mengangguk setuju.

*TAMAT*

Asyiknya Berteman Dengan Leutika



Leutika Publisher. Hmm… pasti sudah pada kenal dong sama penerbit yang satu ini. Yup ! Inilah penerbit yang pada tanggal 10 April nanti akan milad yang ke-2. Wow… masih muda yah ? Hmm… meskipun masih muda, Leutika Publisher tidak kalah mantap dengan penerbit yang sudah memiliki nama besar loh. Pokoknya cocok deh kalo Leutika Publisher itu disebut Bukan Penerbit Buku Biasa ! Aku senang sekali bisa kenalan sama penerbit yang satu ini.

Emangnya kapan sih aku kenal Leutika ?
Hmm… sebenarnya aku baru kenalan sama leutika setahun yang lalu. Yap, tahun 2010. Waktu itu ada event menulis kisah inspiratif dengan tema Titik Balik. Di info lomba, ada FB Leutika Publisher. Ya udah deh, aku langsung aja nge-add Leutika. Ternyata…. Leutika mengkonfirmasi pertemananku. Wow ! Senang bertubi-tubi deh pokoknya. Waktu itu aku memang belum kenal sama Leutika sebab aku baru mendengar namanya satu kali itu. Namun, saat mengetahui kalau Leutika Publisher itu salah satu penerbit nasional, aku jadi semangat menulis lagi.  Ya, semangat menulisku maju-mundur memang. Eh, pas kenalan sama Leutika aku jadi semangat lagi. Woow, dahsyat ! By the way, meskipun aku tidak jadi ikut lombanya, aku merasa bangga sekaligus senang bisa menjadi teman Leutika. Kenapa ? Karena Leutika itu sudah buanyaak penggemarnya loh. Akun FB Leutika Publisher yang pertama sudah full. Sekarang Leutika sudah punya akun Leutika Publisher Dua dan seabreg akun Leutika lainnya seperti Leutika Prio, Leutika Smile, Komunitas Penerbit Leutika dan Leutika Publisher Fans. And you know ? Saking cintanya sama Leutika, aku add semua akun FB-nya loh. Gak percaya ? Cek aja di FB aku. Bagi yang belum berteman sama Leutika, aku saranin agar kalian meng-add Leutika deh. Dijamin kamu tidak akan menyesal. Selain menerima naskah untuk diterbitkan secara nasional, Leutika itu juga sering mengadakan event yang hadiahnya menarik sekali dan sayang untuk dilewatkan. Jadi, buruan kenalan sama Bukan Penerbit Buku Biasa yang satu ini ya !!

Leutika sering ngadain event ?
Yup ! Buanyak banget. Aku sendiri sudah berapa kali mengikuti event dari Leutika. Namun, baru satu kali yang masuk dalam daftar pemenang harapan (hhe…), itu dalam Lomba Adu Jurus Lawan Setan bulan Desember 2010. Selain itu, ada STATOM (Status of The Month), WN (Weekly Notes), Audisi Menulis Lagu Opick Inspirasiku, Fiksi Foto, Novelku di LeutikaPrio, Audisi Menulis Asma Nadia Inspirasiku, dan masih banyak lagi (termasuk yang sedang aku ikuti sekarang yaitu Leutika in Your Blog !). Selain iming-iming hadiah buku, naskah yang menang akan disatukan dalam bentuk buku juga menjadi pemicu tersendiri untukku. Wow ! Siapa sih yang tidak mau memiliki buku atas karya sendiri ? Aku rasa semua orang menginginkannya. Selain bisa menambah kepuasan pribadi, alangkah bahagianya jika tulisan kita bisa menginspirasi orang banyak kan ? Apalagi sekarang Leutika sudah punya lini self publishing yang memungkinkan kita menerbitkan buku sendiri hanya dengan 500rb. Lininya bernama LeutikaPrio. Hmm… makin asyik deh berteman dengan Leutika. Meskipun sering mengejar deadline karena takut ketinggalan event, aku tetap senang dan bahagia karena semangatku untuk menulis meningkat lagi. Leutika, big thanks to you ! Nah, bukan hanya semarak dengan event, Leutika juga sarat dengan beragam kemudahan loh.
Apa saja kemudahan dari Leutika ?
Hmm… buanyaak ! Yang paling aku rasakan sebagai pecinta buku adalah free ongkos kirim ke seluruh Indonesia dengan pembelian di atas 50rb. Hayo, penerbit mana yang bisa kayak gitu selain Leutika ? Ada, LeutikaPrio ! Lah, itu kan memang lini dari Leutika gitu loh. Nah, kalau di LeutikaPrio, free ongkir setelah pembelian minimum 90rb. Hmm… asyik gak tuh ? Bukan cuma itu. Buku juga bisa jadi langganan dengan layanan ELBE (Langganan Buku) dari Leutika. Kita tinggal duduk diam menanti buku yang akan sampai di rumah tiap bulannya. Mantap kan ? Melalui Leutika Book Gifts, buku bisa menjadi kado dari kita untuk siapapun. Dengan Gerai Leutika, selain membuka toko, kita juga bisa sekalian memasarkan buku Leutika. Tidak hanya itu, ada pula kemudahan lain yang ditawarkan seperti Geni, MITEL, SMS for Leutikans, dll.
Oke guys, inilah cerita singakatku tentang teman baikku, Leutika Publisher. Mau tahu selengkapnya ? Kunjungi www. leutika.com dan add semua akun FB milik Leutika ya !!! Oh iya, jangan lupa juga kunjungi lini self publishingnya di www.leutikaprio.com yah ! Dijamin seru dan tidak akan menyesal deh ! Gak percaya ? Buktikan saja sendiri ya... Ayo bersama-sama menjadi bagian dari Leutika Publisher ! 


Posted by : Alina Sitha

PONSEL SEKARAT (FF)

Oleh : Alina Sitha

“Halo, Azkia.”

Tuut…Tuut…

Beberapa menit kemudian… “Halo, Azkia.”

“Halo. Ya, kenapa ?”

“Azkia, aku kangen.”

“Hey, aku juga. Bagaimana keadaanmu ?”

“Baik. Kamu gimana ? Bisakah…”

Klik. Telepon terputus. Ponselnya mati. Arga kesal.

Arga pun segera mengisi baterai ponselnya. Saat layar ponselnya kembali menyala, ia kembali mencoba menghubungi nomor Azkia.

“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Segera lakukan pengisian ulang…”

Arga mematikan tombol bicara. Ia segera mengecek pulsa ponselnya. Ia kaget saat membaca tulisan di layar ponselnya.

Sisa pulsa Rp 0,- Penggunaan pulsa periode ini Rp 100.010,-

“Huh, sekarat lagi !” keluh Arga sambil membanting ponselnya.

*end*

Cerita Tentang Kibun dan Batu Ajaib

Oleh : Alina Sitha

Sebut saja namanya Kibun. Dia sehari-hari berkerja sebagai kuli batu. Pergi pagi-pagi buta dan pulang saat petang menjelang.

Kibun belum berkeluarga. Ia takut tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya kalau ia sudah memutuskan menikahi seorang wanita. Alhasil, sampai umurnya yang sudah empat puluh tahun pun, ia hanya hidup seorang diri di sebuah rumah yang jauh dari keramaian kota.

Suatu hari, ia membawa pulang sebuah batu kecil dari tempatnya bekerja. Batu itu dianggap tidak penting oleh Tuannya. Di rumah, entah kenapa Kibun asik sendiri dengan batu kecilnya. Awalnya ia hanya memperhatikannya. Kemudian, ia mulai menggosok-gosoknya. Batu kecil itu memang terlihat seperti biasa, tapi bentuknya yang unik menjadi daya tarik tersendiri.

Kibun terus menggosok batu kecilnya. Warnanya yang tadinya hitam kusam berubah mengkilat. Tiba-tiba asap membumbung dari batu itu. Lalu,

“Astaga !” seru Kibun kaget saat melihat sesosok jin muncul di hadapannya.

“Sebutkan tiga permintaanmu !” seru jin itu.

Kibun masih ternganga. Ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Namun, gejolak hatinya memaksanya untuk segera mengatakan tiga permintaannya.

“Aku seorang kuli batu yang miskin. Aku ingin kaya. Bisakah kau mewujudkannya ?” kata Kibun dengan hati dag-dig-dug.

“Baik, Engkau akan kaya !” seru jin itu seraya mengucapkan mantra.

Tiba-tiba suasana rumah Kibun berubah. Bilik reotnya telah menjadi sebuah istana yang dihiasi dengan pernak-pernik terbuat dari emas.

“Apa permintaanmu yang kedua ?” tanya jin itu. Kibun masih sibuk memperhatikan seisi rumahnya yang berubah.

“A… a… ku mau memiliki seorang istri yang cantik jelita,” jawab Kibun terbata.

“Baik, Engkau akan memiliki seorang istri yang cantik jelita !” seru jin itu.

Tidak lama kemudian muncullah seorang wanita cantik layaknya bidadari dari balik pintu rumah Kibun. Kibun terpesona melihat wanita itu. Berkali-kali ia memicingkan matanya untuk memastikan apa yang ia lihat.

“Sekarang tinggal satu permintaanmu. Apa permintaanmu yang ketiga, Tuan ?”

Kibun mengerutkan keningnya. Ia berpikir. Sementara matanya lekat memandang wanita cantik yang kini sudah duduk di sampingnya.

“Bisakah aku menunda permintaanku dulu hingga aku benar-benar tahu apa yang aku butuhkan ?” tanya Kibun.

Si Jin terlihat berpikir sebelum akhirnya menjawab, ”Baiklah, Tuanku. Akan aku kabulkan nanti permintaanmu. Selamat menikmati hidupmu, Tuanku.” Lalu, jin itu menghilang diiringi asap yang membumbung dari batu ajaib.

Kejadian yang dialami Kibun langsung menyebar cepat di wilayah tempat tinggalnya. Bahkan sampai ada yang berniat untuk mengambil batu ajaib milik Kibun. Kibun mengetahuinya. Ia pun menyimpan baik-baik batunya dengan menguburnya dalam-dalam di halaman rumahnya.

Suatu ketika, ada seorang pencuri masuk rumah Kibun. Saat itu, Kibun masih terjaga di kamarnya. Mendnegar suara berisik dari ruang tamunya, ia keluar kamar. Sayangnya, ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali selembar kertas yang berisi ancaman agar ia tidak menyimpan batu ajaib itu sendirian.

Hari demi hari, suasana kehidupan Kibun yang harusnya diliputi kebahagiaan malah sebaliknya. Setiap hari ada saja percobaan pencurian ke rumahnya. Ia seperti mengalami terror. Hidupnya jadi gelisah dan tidak tenang.

Akhirnya, pada suatu malam, Kibun menggali kuburan batu ajaibnya. Tidak pakai lama, ia langsung menggosok-gosok batu itu. Lalu, keluarlah jin yang dinantinya.

“Ada apa, Tuan ? Apakah Tuan sudah memiliki permintaan ketiga ?”

Kibun menarik nafas panjang. Ia sangat menginginkan kekayaan dan seorang istri yang cantik, tapi ia juga mendambakan kehidupan yang bahagia dan tenang. Sayangnya, kebahagiaan dan ketenangan ia dapatkan saat hidupnya miskin dan seorang diri.

“Ya, aku sudah memutuskan. Aku meminta agar batu ini musnah beserta semua keajaibannya,” kata Kibun tegas.

“Tapi, Tuan, kalau batu ini musnah, permintaan Tuan yang pertama dan kedua akan musnah jua. Apakah Tuan yakin ?” Jin itu terlihat bingung.

“Ya, aku yakin. Sekarang kabulkanlah permintaanku yang ketiga. Lebih cepat lebih baik !”

“Baiklah, kalau itu memang yang Tuanku inginkan. Wahai batu ajaib, musnahlah kau beserta keajaibanmu !”

Hanya dalam hitungan detik, istana lenyap. Bilik reot kembali terlihat. Batu ajaib beserta jin lenyap dari pandangannya. Yang paling menyakitkan, wanita cantik yang menjadi istrinya juga lenyap.

“Alhamdulillah. Semoga ini memang keputusan terbaikku,” kata Kibun pada dirinya sendiri.

Sejak saat itu, kehidupan Kibun kembali normal. Ia menajdi kuli batu kembali. Ajaibnya, isu-isu tentangnya dan kemegahan yang ia pernah miliki hilang begitu saja. Semua warga bersikap baik padanya sama seperti sebelum ia menemukan batu ajaib itu.

Kini, Kibun pun hidup tenang dan bahagia. Bahkan, ia sudah memiliki seorang istri yang cantik yang ia temui di tempat kerjanya, yang merupakan anak dari Tuannya.

Hutang Ibu (FF)

Oleh : Alina Sitha

Dina. Itulah nama gadis yang menjadi kembang desa di kampungnya. Ia seorang periang dan sering membuat orang tertawa karena leluconnya. Tapi, semuanya telah berubah sejak tiga bulan yang lalu. Ia menjadi murung dan sering menangis di dalam kamarnya. Meskipun kini ia hidup berkecukupan dan tinggal di rumah yang mewah, ia sama sekali tidak merasa bahagia. Ia tertekan.

“Kalau bukan karena ibuku yang meminta, aku tidak akan pernah berada disini,” kata Dina geram.
“Jadi, kamu tidak mencintaiku ?” tanya seorang lelaki.
“Maaf, aku belum bisa mencintaimu,” jawab Dina sambil menutup mukanya dengan bantal. Ia menangis. Sementa lelaki itu keluar kamar dengan membanting pintu.

Lelaki itu adalah Adi. Ia sudah resmi menjadi suami Dina sejak tiga bulan lalu. Sebuah pernikahan yang terjadi atas dasar balas budi dan sama sekali tidak dikehendaki oleh Dina.  Semua karena ibunya. Ibunya Dina memiliki hutang kepada Pak Imran, bapaknya Adi. Karena kesulitan ekonomi, bukannya berhasil melunasi cicilan hutang, ibunya malah menambah jumlah hutang pada Pak Imran yang bekerja sampingan sebagai rentenir. Awalnya, Dina tidak mengetahunya. Sampai pada akhirnya, ia mendapati ibunya dibentak oleh Pak Imran sekitar empat bulan lalu.

“Bu, sebenarnya ada apa ? Mengapa Pak Imran sekasar itu pada ibu ?” tanya Dina.
“Ibu minta maaf, Nak” jawab ibunya. Dina mengernyitkan kening tidak mengerti. Sementara ibunya masih sesenggukan menahan tangis.
“Tenangkan diri Ibu dulu, nanti kalau sudah tenang tolong Ibu jelaskan sama Dina agar tidak ada salah pengertian,” kata Dina sambil menenangkan ibunya.

Beberapa menit kemudian, ibunya pun menceritakan hal yang tidak pernah dilupakan oleh Dina sampai kapanpun. Ibunya mengaatakan bahwa kalau tidak secepatnya hutang dilunasi, dirinya akan dijodohkan dengan Adi. Saat itu, mendengar nama Adi, wajah Dina berubah geram. Pasalnya, ia pernah menolak keberadaan Adi dalam hidupnya yang pernah memintanya menjadi pacarnya.

“Kenapa harus dijodohkan dengan Adi, Bu ?” tanya Dina sedikit berteriak. Ia emosi.
“Ini salah ibu, Nak. Ibu akan usahakan agar hutang kita dapat segera terbayar sehingga kamu tidak usah menikah dengannya”, kata ibunya lemah.
“Tapi, hutang kita terlalu banyak, Bu. Mana mungkin dalam sebulan kita bisa mengumpulkan uang sepuluh juta ? Darimana,  Bu ?” kata Dina sesenggukan. Ia menangis meratapi nasibnya.

Akhirnya, tenggat waktu yang diberikan Pak Imran habis. Pak Imran sekeluarga mendatangi rumah Dina. Acara lamaran spontan pun diadakan. Seminggu kemudian, acara pernikahan digelar. Dina hanya bisa menunduk pasrah di kursi pengantin. Begitu pula ibunya. Setelah itu, Dina tinggal bersama Adi di rumah baru Adi yang memang sengaja disiapkan untuk keluarga barunya, hingga saat ini.

“Lalu, mengapa kamu menerima lamaranku waktu itu ?” tanya Adi dari balik pintu kamar setengah berteriak.

“Untuk melunasi hutang ibuku pada ayahmu,” jawab Dina tidak kalah keras.

Adi membuka pintu kamar. Dina masih menangis dalam selimutnya.

“Pantas saja kau tidak pernah mencintaiku,” kata Adi lirih.  Dina semakin keras menangis. Sementara Adi pergi meninggalkannya, entah pergi kemana.

*end*

Aku Ingin

Oleh : Alina Sitha

Aku ingin selembut sutra
dapat menyenangkan siapa saja yang mengenalku

aku ingin secerah mentari
bisa menerangi jalan bagi siapapun yang sedang bermasalah

aku ingin menjadi bidadari
yang selalu dirindukan karena kebaikannya

aku ingin seperti malaikat
yang tidak pernah lupa bertasbih kepada Allah SWT

aku ingin seperti air
yang mengalir tanpa henti tiada putus asa

aku ingin seperti burung
bisa terbang tinggi ke mana pun sesuka hati

yang terpenting aku ingin menjadi diriku sendiri

Serpihan Cintaku

oleh : Alina Sitha

Dalam tangisan nafaske tersekat
mendengar lantunan shalawat

hatiku menciut
bak terkena lecut

meski cintaku senipis kulit bawang
hasrat melafalkan tidak selayang

berharap cintaku takkan mengisut

Untukmu, Indonesia !

Oleh : Alina Sitha

Ini seruan hati pemudi bangsa
yang terangkai dalam untaian kata
untukmu, Indonesia

Indonesia negeri para pecinta
tempat insan memadu kasih sepanjang masa
sayangnya,
pengkhianat cinta berkuasa memegang tahta
merampas hak rakyat jelata
sesungguhnya,
bukan harta penopang segala
iman dan takwa kunci bahagia.

Indonesia beradab tertuang dalam pancasila
seolah belum menuai makna
dikala berseteru para pelanggar norma susila
mencari pembenaran atas tindakan mereka
sementara pahlawan devisa bersikeras menjaga harga dirinya

Saat alam menyindir Indonesia
air mata mengalir serentak seia sekata
dari pelosok negeri hingga ibu kota
sudahkah sadar para pengkhianat cinta ?
sudahkan jera para pelanggar norma susila ?
sudahkah bahagia hidup pahlawan devisa ?

Untukmu, Indonesia
kurangkai kata terindah di setiap do’a
berharap insan tak terbuai fatamorgana
agar tiada lagi penimbun harta
berharap insan memahami susila
agar nista terhapus dari semesta
berharap keji perlahan sirna
agar pejuang devisa luput dari sengsara
berharap murka berganti cinta
agar negeri aman sentosa

Untukmu, Indonesia
hapuslah sudah airmata
bukan saatnya bertopang dagu menyiakan asa
bersatulah demi tanah air tercinta
karena ada hikmah di balik setiap peristiwa

Dengan lantang aku berkata,
aku pemudi Indonesia
siap menyongsong masa depan bangsa
berbekal cita-cita dan do’a
Untumu, Indonesia !