Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flash fiction. Tampilkan semua postingan

PONSEL SEKARAT (FF)

Oleh : Alina Sitha

“Halo, Azkia.”

Tuut…Tuut…

Beberapa menit kemudian… “Halo, Azkia.”

“Halo. Ya, kenapa ?”

“Azkia, aku kangen.”

“Hey, aku juga. Bagaimana keadaanmu ?”

“Baik. Kamu gimana ? Bisakah…”

Klik. Telepon terputus. Ponselnya mati. Arga kesal.

Arga pun segera mengisi baterai ponselnya. Saat layar ponselnya kembali menyala, ia kembali mencoba menghubungi nomor Azkia.

“Maaf, pulsa Anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini. Segera lakukan pengisian ulang…”

Arga mematikan tombol bicara. Ia segera mengecek pulsa ponselnya. Ia kaget saat membaca tulisan di layar ponselnya.

Sisa pulsa Rp 0,- Penggunaan pulsa periode ini Rp 100.010,-

“Huh, sekarat lagi !” keluh Arga sambil membanting ponselnya.

*end*

Hutang Ibu (FF)

Oleh : Alina Sitha

Dina. Itulah nama gadis yang menjadi kembang desa di kampungnya. Ia seorang periang dan sering membuat orang tertawa karena leluconnya. Tapi, semuanya telah berubah sejak tiga bulan yang lalu. Ia menjadi murung dan sering menangis di dalam kamarnya. Meskipun kini ia hidup berkecukupan dan tinggal di rumah yang mewah, ia sama sekali tidak merasa bahagia. Ia tertekan.

“Kalau bukan karena ibuku yang meminta, aku tidak akan pernah berada disini,” kata Dina geram.
“Jadi, kamu tidak mencintaiku ?” tanya seorang lelaki.
“Maaf, aku belum bisa mencintaimu,” jawab Dina sambil menutup mukanya dengan bantal. Ia menangis. Sementa lelaki itu keluar kamar dengan membanting pintu.

Lelaki itu adalah Adi. Ia sudah resmi menjadi suami Dina sejak tiga bulan lalu. Sebuah pernikahan yang terjadi atas dasar balas budi dan sama sekali tidak dikehendaki oleh Dina.  Semua karena ibunya. Ibunya Dina memiliki hutang kepada Pak Imran, bapaknya Adi. Karena kesulitan ekonomi, bukannya berhasil melunasi cicilan hutang, ibunya malah menambah jumlah hutang pada Pak Imran yang bekerja sampingan sebagai rentenir. Awalnya, Dina tidak mengetahunya. Sampai pada akhirnya, ia mendapati ibunya dibentak oleh Pak Imran sekitar empat bulan lalu.

“Bu, sebenarnya ada apa ? Mengapa Pak Imran sekasar itu pada ibu ?” tanya Dina.
“Ibu minta maaf, Nak” jawab ibunya. Dina mengernyitkan kening tidak mengerti. Sementara ibunya masih sesenggukan menahan tangis.
“Tenangkan diri Ibu dulu, nanti kalau sudah tenang tolong Ibu jelaskan sama Dina agar tidak ada salah pengertian,” kata Dina sambil menenangkan ibunya.

Beberapa menit kemudian, ibunya pun menceritakan hal yang tidak pernah dilupakan oleh Dina sampai kapanpun. Ibunya mengaatakan bahwa kalau tidak secepatnya hutang dilunasi, dirinya akan dijodohkan dengan Adi. Saat itu, mendengar nama Adi, wajah Dina berubah geram. Pasalnya, ia pernah menolak keberadaan Adi dalam hidupnya yang pernah memintanya menjadi pacarnya.

“Kenapa harus dijodohkan dengan Adi, Bu ?” tanya Dina sedikit berteriak. Ia emosi.
“Ini salah ibu, Nak. Ibu akan usahakan agar hutang kita dapat segera terbayar sehingga kamu tidak usah menikah dengannya”, kata ibunya lemah.
“Tapi, hutang kita terlalu banyak, Bu. Mana mungkin dalam sebulan kita bisa mengumpulkan uang sepuluh juta ? Darimana,  Bu ?” kata Dina sesenggukan. Ia menangis meratapi nasibnya.

Akhirnya, tenggat waktu yang diberikan Pak Imran habis. Pak Imran sekeluarga mendatangi rumah Dina. Acara lamaran spontan pun diadakan. Seminggu kemudian, acara pernikahan digelar. Dina hanya bisa menunduk pasrah di kursi pengantin. Begitu pula ibunya. Setelah itu, Dina tinggal bersama Adi di rumah baru Adi yang memang sengaja disiapkan untuk keluarga barunya, hingga saat ini.

“Lalu, mengapa kamu menerima lamaranku waktu itu ?” tanya Adi dari balik pintu kamar setengah berteriak.

“Untuk melunasi hutang ibuku pada ayahmu,” jawab Dina tidak kalah keras.

Adi membuka pintu kamar. Dina masih menangis dalam selimutnya.

“Pantas saja kau tidak pernah mencintaiku,” kata Adi lirih.  Dina semakin keras menangis. Sementara Adi pergi meninggalkannya, entah pergi kemana.

*end*

Sebait Cinta

Oleh : Alina Sitha

Namaku Maman. Aku adalah salah satu orang yang banyak menghabiskan waktu di jalanan. Sehabis pulang sekolah, aku selalu mendatangi alun-alun kota. Berbekal gitar tua pemberian ayah, aku bernyanyi bersama teman senasib. Sudah hampir setahun aku menjalani hidup seperti ini, tapi baru beberapa hari ini aku merasa lebih bersemangat. Ternyata, Didin, temanku sesama pengamen jalanan, menyadari perubahan sikapku.
“Man, kamu kelihatannya semangat sekali beberapa hari ini. Kamu kenapa ?”
“Ah, biasa saja, Din”
“Bohong kamu. Aku perhatikan kamu selalu datang lebih cepat dan selalu memperhatikan ke arah sekolah itu. Ayo, ngaku kamu, Man. Aku yakin ada yang kamu sembunyikan dariku”
Aku tidak menjawab. Suasana berubah ramai. Satu per satu penghuni sekolah bercat hijau keluar. Aku langsung berdiri dan mengamati setiap orang yang keluar dari gerbang.
Itu dia, kataku dalam hati.
Gadis cantik berambut panjang dengan tas selempang ungu berada diantara empat gadis yang hampir serupa. Ia berdiri di seberang jalan menanti angkutan umum. Mataku lekat menatap gadis itu.
“Ketahuan !”, teriak Didin di telingaku.
“Apa yang ketahuan, Din ?”, tanyaku sambil mengalihkan pandangan.
“Kamu naksir gadis itu, Man. Sudahlah, jangan bohong. Aku melihat matamu tidak berkedip menatapnya. Akui saja, Man. Wajar saja, gadis itu memang cantik kok”
Aku terdiam dan tersenyum menanggapi perkataan Didin. Aku tersipu malu. Kulirik lagi gadis itu. Entah mengapa aku merasa perih. Aku merasa hanyalah pengamen jalanan yang tidak mungkin mendekati gadis itu.
# # #
“Ayo dong, Man. Mana aura lelakimu ? Kalau kamu tidak mau, aku juga mau loh, Man”, kata Didin.
Aku belum berkutik. Sementara Didin semakin memaksaku untuk bernyanyi di depan gadis yang belum kutahu namanya itu setelah memergokiku sedang menulis bait lagu tentang cinta.
Sore telah tiba. Aku mengumpulkan segenap keberanian untuk menjalankan usul Didin. Saat gerbang sekolah terbuka, aku menunggu gadis itu di tempatnya biasa menunggu angkutan sambil menyanyikan penggalan lagu.
Ups, target datang, bisikku dalam hati.
“Ku tunggu dirimu, ku nanti dirimu, meski hanya bayang semu, izinkanku mengenalmu duhai gadis bernuansa ungu”. Aku pun menyanyikan sebait lagu ciptaanku.
“Lagunya enak, Mas. Tapi, kok diulang-ulang ya ?”, tanya gadis pujaanku.
“Ciptaan sendiri, Neng. Baru nemu sebait lagunya”, jawabku tersipu.
“Waw, kreatif tuh. Bukan nggak mungkin bisa jadi terkenal loh, Mas. Kalo sudah sukses bagi-bagi CD gratis ke kami ya”, kata gadis pujaanku sambil mengeluarkan uang lembaran.
“Terima kasih, Neng…..”
“Dian. Panggil saja namaku Dian”
“Sekali lagi terima kasih, Neng Dian. Mohon didoakan agar sukses. Neng juga saya doain sukses dah”
“Amiin”
Mukaku memerah. Aku tidak menyangka bisa mengetahui nama gadis itu. Keramahannya membuatku semakin terpikat saja. Aku segera berlalu dari hadapannya dan berharap Dian tidak melihat perubahan warna mukaku. Ah, Dian, sebait cinta ini untukmu, seandainya kau tahu.

*tamat*

Hujan

“Aku nggak mau makan”, kataku ketus.
 Lalu suasana hening sampai hujan turun memecah kesunyian.. Tidak ada siapapun di rumah. Sementara hujan semakin deras.
 “Ibu !”, teriakku. Hanya kilatan petir yang menyambar.
Satu jam kemudian, aku melihat sesosok wanita menyusuri jalan penuh air tanpa payung dan semua pakaiannya basah sambil membawa bungkusan plastik. Itu ibu, bisikku dalam hati. Aku langsung keluar rumah dan bergegas memayungi dan memeluknya.
 “Maafkan aku, Bu”
 “Sudahlah, ini ada makanan kesukaanmu. Kamu makan ya”
 Air mataku pun meleleh mengiringi hujan turun. Saat sampai di rumah aku langsung makan yang dibawakan ibu untukku. Ibuku tersenyum, aku bahagia.

Perjuangan

Wanita itu kembali ke peraduannya. Memakai pakaian yang sama seperti kemarin sambil membawa baki berisi berbagai jenis kue buatannya. Sebelum pergi, ia mengecup kening seorang perempuan belia yang masih terlelap. Itu anaknya.

Pagi-pagi buta ia berkeliling mencari nafkah, pulang menjelang senja. Begitu sehari-hari. Dan setiap hari pula ia menerima sambutan dari anak kandungnya, “Kalau cuma segini, kapan aku bisa beli mobil ? Coba ibu tidak berpisah sama ayah pasti tidak akan begini jadinya”.

Begitu terus. Terkadang tanpa diketahui anaknya, ia menangis dalam doa’nya “Ya, Tuhan, ampuni kesalahan hamba, bukakan  mata hati anak hamba, jangan silaukan ia dengan dunia. Amiin”.